Rekomendasi Saham Vale Indonesia dari Ciptadana Sekuritas

Rekomendasi Saham Vale Indonesia dari Ciptadana Sekuritas

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan kinerja positif pada kuartal I 2021. Produsen nikel ini membukukan penjualan US$ 207 juta pada kuartal I 2021, meningkat 18,3% year-on-year (yoy). Sementara itu, INCO akhirnya membukukan $33,7 juta, naik 16,4% yoy.

Analis Ciptadana Sekuritas Thomas Radityo menulis dalam surveinya pada 28 April 2021 bahwa sementara laba bersih INCO hanya 18% dari perkiraan Ciptadana, ia melihat INCO meningkatkan produksinya pada kuartal kedua dan ketiga tahun 2021 untuk meningkatkan kinerja pada kuartal pertama tahun 2021 Jadi, Thomas yakin, kinerja INCO masih sesuai dengan perkiraan Ciptadana.

“Hasil solid INCO didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang signifikan dan penurunan rasio biaya operasional dari 0,9% di Q1 2020 menjadi 0,5% di Q1 2021,” tulis Thomas dalam risetnya.

Sementara itu, laba bersih kuartalan INCO meningkat 5 kali lipat dari hanya US$6,2 juta pada kuartal keempat 2020 menjadi US$33,7 juta pada tiga bulan pertama tahun ini. Thomas mengatakan hal itu seiring dengan kenaikan harga jual rata-rata (ASP) nikel sebesar 17% dan pelebaran margin.

Namun, penjualan nikel triwulanan INCO turun 8,6% menjadi 14,847 ton. Thomas menjelaskan, penurunan ini merupakan hasil dari proses pemeliharaan tahunan INCO.

Ke depan, kata Thomas, salah satu katalis negatif yang dapat mempengaruhi produksi INCO adalah pembangunan Furnace 4 akan ditunda hingga November 2021. Selama proses pengembangan, Furnace 4 tidak akan beroperasi setidaknya selama lima bulan, atau hingga Maret. 2022.

Selain itu, pembangunan smelter Bahodopi dan Pomalaa juga sedikit tertunda akibat pandemi Covid-19. Kedua proyek tersebut masih menunggu izin yang berbeda dan masih dalam tahap negosiasi dengan mitra untuk menyelaraskan standar kelayakan, manajemen proyek, dan opsi sumber daya.

“Dengan mempertimbangkan timeline baru, karena pembangunan Furnace 4 tertunda, kami telah mengurangi proyeksi volume produksi kami dari INCO sebesar 2,3% menjadi 68.628 ton,” tambah Thomas.

Sementara itu, dia memperkirakan harga nikel ASP sekitar $17.000 per ton tahun ini, dengan asumsi pabrik baja di China telah beroperasi pada kapasitas penuh sejak kuartal kedua tahun 2021.

Dengan pertimbangan tersebut, Thomas juga memperkirakan pendapatan INCO tahun ini mencapai US$933 juta dengan laba bersih US$188 juta.

Ciptadana saat ini merekomendasikan untuk membeli saham INCO dengan target harga Rp 6.700 per saham. Sementara itu, saham INCO ditutup melemah 0,2% menjadi Rp 4.960 per saham pada Kamis (6/5).